KEDUDUKAN SAKSI MAHKOTA (KROON GETUIGE) DALAM PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI PERKARA NO.27/Pid.sus-TPK/2016/PN.pdg)

Mukhwin Hakimi Mukhwin

Abstract


ABSTRACT

Crown witness's position in court proceedings is set out in Article 142 of Law Number 8 Year 1981 concerning the Criminal Procedure Law and is confirmed in the Supreme Court Decision Number.1986 K / Pid.1989. The testimonies of the crown witness in item No.27 / Pid.sus-TPK / 2016 / PN.pdg have the validity and validity of the evidence as well as witnesses and witness information stipulated in Law Number 8 of 1998 on the Criminal Procedure Law. Problem statement 1. What is the strength of evidence of a crown witness (kroon getuige) in the proving of a criminal act of corruption in item No.27 / Pid.sus-TPK / 2016 / PN.pdg? 2. How does the judgment of the judge on the testimony of the crown witness (kroon getuige) in evidence be presented in item No.27 / Pid.sus-TPK / 2016 / PN.pdg? This study uses a doctrinal approach. Data sources in the form of secondary data comprise primary legal materials, secondary legal materials, tertiary legal materials. Legal materials are collected through documentary studies. Legal materials are analyzed qualitatively. The conclusions of the research are: (1). The strength of crown witnesses is based on certain principles ie lack of evidence, delneming, splitting (2). Consideration of the judge against the testimony of the crown witnesses in this case, being the primary consideration of the judge in imposing a verdict is based on theoretical, and juridical aspects. The witness's position in the coronation of this case as a means of additional evidence that reinforces the conviction of a judge whose value is similar to that of other witnesses.

Keywords: Crown witness, Proof, Crime, Corruption



References


DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku

Adami Chazawi, 2008, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Ed.1, Cet.2 PT. Alumni, Bandung.

Andi Hamzah, 2013, Hukum Acara Pidana Indonesia, Ed.2, Cet. 7, Sinar Grafika, Jakarta.

Aristo M.A Pangaribuan, dkk, 2017, Pengantar Hukum Acara Pidana di Indonesia, cet ke-1, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Arya maheka, 2006, Menganali dan Memberantas Korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia, Sinar Grafika.

Bambang Waluyo, 1992. Sistem Pembuktian Dalam Peradilan di Indonesia, Ed.1, Cet. 1 Sinar Grafika, Jakarta.

______________, 2002, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Ed.1, Cet.3, Sinar Grafika, Jakarta.

Bambang Poernomo, Pola Dasar Teori dan Azaz Hukum Acara Pidana, 1988, Ed.1, Liberty, Yogyakarta.

Dian Dewi Pulung Sari, 2011, Analisis Yuridis Kekuatan PembuktianPenilaian Hakim Tentang Keterangan Seorang Saksi didalam Proses Peradilan Pidana Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, UNS, Surakarta.

Irenrera Putri, 2010, Tinjauan Yuridis Terhadap Perlindungan Karyawan Notaris Sebagai Saksi Dalam Peresmian Akta, Universitas Indonesia.

La Siana, Januari 2008, Dampak dan Upaya Pemberantasan Serta Pengawasan Korupsi Di Indonesia, Jurnal Hukum Pro Justitisia, Volume 26 No.1.

Lilik Mulyadi, 2007, Hukum Acara Pidana Normatif, Teoritis, Praktek dan Masalahnya, Ed.1, Cet.1, PT Alumni, Bandung.

______________, 2007, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Normatif, Teoritis, Praktik dan Masalahnya, Ed.1, Cet. 2, PT. Alumni, Bandung.

M. Yahya Harahap, 2007, Pembahasan Permasalahn dan Penerapan KUHAP, Ed.2, Cet. 9. Sinar Grafika, Jakarta.

Martiman Prodjohamidjojo, 1983. Sistem Pembuktian dan Alat-Alat Bukti, Ghalia Indonesia, Jakarta Timur.

Moch. Faisal Salam, 2001, Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan Prakek, Mandar Maju, Bandung.

Nurul Gufron, 2012, Kedudukan Saksi Dalam Menciptakan Peradilan Yang Bebas Korupsi, Universitas Jember.

Ronny Hanitijo Soemitro, 1990, Metodologi Penelitian Hukum Normatif dan Jurimetri, Ghalia Indonesia.

R. Subekti, 2003. Hukum Pembuktian, Cet. 14. PT. Pradnya PraMita, Jakarta.

Septian Tri Yuwono, Kajian Kedudukan dan Nilai Pembuktian Saksi Mahkota Sebagai Alat Bukti Dalam Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, 2011, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi

Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Undang-undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Pidana Korupsi

C. Sumber Lain

Hukum Online, 2001. Syahril Sabirin Menjadi Saksi Mahkota. 31 Januari 2011, http://www.hukmonline.com/berita/baca/hol1811/syahril-sabirin-jadi-saksi-mahkota. diakses tanggal 27 Januari 2017, pukul 00.45 Wib


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.