https://ejurnal.bunghatta.ac.id/index.php/JFIB/issue/feed Abstract of Undergraduate Research, Faculty of Humanities, Bung Hatta University 2025-03-26T03:22:54+00:00 Open Journal Systems https://ejurnal.bunghatta.ac.id/index.php/JFIB/article/view/27718 SUSPENSE, SURPRISE, DAN UNITY DALAM PLOT MANGA KIMETSU NO YAIBA 2025-03-24T05:17:21+00:00 Indriani iindriani013@gmail.com Tienn Immerry immery20@bunghatta.ac.id Penelitian ini menganalisis unsur suspense, surprise, dan unity dalam tahapan plot manga Kimetsu no Yaiba. Batasan analisis masalah adalah plot terkait usaha penyelamatan Nezuko oleh Tanjirou agar dapat kembali menjadi manusia setelah digigit oleh oni. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan intrinsik dengan fokus pada tokoh, tahapan plot, dan kaidah plot. Teori plot mengacu pada tahapan awal-tengah-akhir menurut Aristoteles. Tiga tahapan plot dalam usaha penyelamatan Nezuko secara konsisten membangun suspense melalui konflik dan pertempuran antara Tanjirou serta sekutunya melawan para oni. Elemen surprise, sebagai hal yang tidak terduga yang terjadi setelah suspense, ditemukan dalam setiap tahapan plot. Surprise, terutama muncul dalam pengungkapan kekuatan dan strategi yang digunakan oleh Tanjirou dan Nezuko. Unity terbentuk dari keterkaitan antara suspense dan surprise di tiap tahapan plot tujuan utama Tanjirou, menemukan obat untuk mengembalikan Nezuko menjadi manusia. Nezuko, meskipun sebagai tokoh protagonis terkadang berkontradiksi saat berubah menjadi oni. Partisipasi aktif Nezuko dalam proses penyembuhan dirinya sendiri menjadi faktor penentu keberhasilan Tanjirou dalam mencapai misinya. ABSTRACT This research analysis the elements of suspense, surprise, and unity in the plot stages of Demon Slayer manga. The limitation of the problem analysis is the plot related to Nezuko rescue attempt by Tanjirou to become human again after being bitten by oni. An intrinsic approach used with a focus on characters, plot stages, and plot rules. Plot theory refers to the beginning-middle-end stage according to Aristoteles. The three stages of the plot in Nezuko rescue attempt consistently build suspense through conflicts and battles between Tanjirou and his allies against the oni. The element of surprise, as the unexpected, happening after suspense, found in each stage of the plot. Surprise, especially emerged in the revelation of the powers and strategies used by Tanjirou and Nezuko. Unity is formed from the connection between suspense and surprise in each stage of the plot of Tanjirou main goal, which is to find a cure to return Nezuko into human. Nezuko, despite being the protagonist sometimes contradicts herself when she turns into an oni. Nezuko active participation in the process of healing herself becomes the determining factor of Tanjirou success in achieving his mission. 2025-03-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ https://ejurnal.bunghatta.ac.id/index.php/JFIB/article/view/27785 Masalah Remaja dalam Film Aku no Hana 2025-03-24T07:05:03+00:00 Fahraensyah Joel Fahren092@gmail.com Tienn Immerry immery20@bunghatta.ac.id Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masalah remaja yang dialami tiga remaja pada film Aku no Hana, yaitu Kasuga Takao, Nakamura Sawa, dan Saeki Nanako. Teori yang digunakan yaitu teori fiksi Stanton untuk analisis karakter dan teori perkembangan remaja Hurlock untuk mengklasifikasi masalah pribadi dan masalah khas remaja yang dialami ketiga remaja tersebut. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik simak dan catat untuk pengumpulan data. Metode deskriptif digunakan untuk analisis data karakter dan masalah remaja. Hasil penelitian mengungkap masalah remaja dari ketiga karakter remaja. Ketiga remaja memiliki masalah remaja, yaitu masalah pribadi yang berkaitan dengan karakter dan masalah khas remaja yang berkelindan dengan motivasi karakter. Kasuga Takao memiliki masalah pribadi: (1) masalah di rumah, (2) masalah penyesuaian sosial, dan (3) masalah moral, berkaitan dengan karakter penakut, pemalu, dan pesimis. Masalah khas remaja Kasuga Takao adalah kebingungan identitas diri. Nakamura Sawa memiliki masalah pribadi: (1) masalah di rumah, (2) masalah di sekolah, (3) masalah emosional, dan (4) masalah moral, berkaitan dengan karakter pembangkang, agresif, dan licik. Nakamura Sawa mengalami perundungan dan depresi sebagai masalah khas remaja. Saeki Nanako memiliki masalah pribadi berupa masalah moral, berkaitan dengan karakter pendendam dan egois. Masalah khas remaja Saeki Nanako adalah mengalami perundungan, persaingan cinta dengan teman sebaya, dan depresi. ABSTRACT This study aims to determine the problems of adolescent experienced by three teenagers in Aku no Hana, namely Kasuga Takao, Nakamura Sawa and Saeki Nanako. The theories used to analyse are Stanton's theory of fiction for character and Hurlock's theory of adolescent development to determine personal problems and typical adolescent problems in three characters. This qualitative research used watching-listening and note-taking techniques for data collection. Descriptive method was used to analyse the character data and adolescent problems. The results revealed that the three teenagers have adolescent problems. Personal problems related with character and typical adolescent problems related with motivation of character. Kasuga Takao's personal problems: (1) problems at home, (2) adjustment problems, and (3) moral problems, relating to his timid, shy, and pessimistic characters. His typical adolescent problem is confusion over self identity. Nakamura Sawa's personal problems: (1) problems at home, (2) problems at school, (3) emotional problems, and (4) moral problems, relating to her defiant, aggressive, and cunning characters. Her typical adolescents problems are experiences bullying and depression. Saeki Nanako's personal problems are moral problems, relating to vindictive and selfish characters. Her typical adolescent are experiences bullying, love rivalry with peers, and depression. 2025-03-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ https://ejurnal.bunghatta.ac.id/index.php/JFIB/article/view/27879 Penerapan Honne (Perasaan Sebenarnya) Tatemae (Perasaan tidak Sebenarnya) bagi Kenshusei di Jepang 2025-03-26T03:03:44+00:00 Evelina Limbernia Evelinalimbernia104@gmail.com Oslan Amril oslan.amril@bunghatta.ac.id Jepang adalah salah satu negara yang sangat kaya terhadap budaya yang dimana mereka selalu melestarikan dan memelihara seni budayanya sampai sekarang, salah satu budayanya adalah Honne dan Tatemae.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penerapan Kenshusei tentang komunikasi terutama mengenai Honne Tatemae berdasarkan dari Usia,Jenis Kelamin,Status Program dan Masa Kerja.Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif.Teknik pengambilan data penelitian menggunakan kuesioner berupa google form,observasi,dokumentasi dan diolah secara sederhana.Penelitian ini juga menggunakan teknik analisis deskriptif.Subjek penelitian Kenshusei telah selesai Magang di Jepang dan Kenshusei sedang Magang di Jepang sebanyak 20 orang. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah rata-rata Mahasiswa memahami serta mampu menerapkan Honne Tatemae. Ini dibuktikan dari data yang diperoleh bahwa Kenshusei yang dibuktikan dari jumlah maupun persentase dari 20 pertanyaan. 20 Pertanyaan diuji yang dimana hanya 2 variabel yang tidak valid dan uji Reliabilitas 0,60 dan hasilnya >0,60 = 0,747 artinya Kenshusei dapat menjawab pertanyaan dari kuesioner yang telah diberikan. Japan is a country rich in culture, where traditions and cultural arts are preserved and maintained to this day. One of these cultural concepts is Honne and Tatemae. The purpose of this study is to understand the application of Honne and Tatemae in communication among Kenshusei based on age, gender, program status, and work experience. This research uses a quantitative descriptive method. Data collection techniques involve questionnaires distributed via Google Forms, observations, and documentation, which were analyzed using descriptive analysis. The study involved 20 Kenshusei who had completed their internships in Japan or were currently interning. The findings indicate that the majority of the participants understand and are capable of applying Honne and Tatemae. This is evidenced by the data collected from 20 questionnaire items, of which only two variables were found invalid. The reliability test score was 0.747, greater than the threshold of 0.60, demonstrating that the Kenshusei were able to respond accurately to the questionnaire. 2025-03-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/